Wednesday, April 27, 2005

Aku Sudah Belajar


Aku sudah belajar bahwa...
Tidak selamanya hidup ini indah
Kadang Tuhan mengijinkan aku melalui lembah derita
Tetapi aku tahu bahwa Ia tidak pernah meninggalkanku
Sebab itu aku akan selalu bergembira

Aku sudah belajar bahwa...
Tidak semua yang kuharapkan akan menjadi kenyataan
Kadang Tuhan membelokkan rencanaku
Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari apa yang kurencanakan
Sebab itu aku akan selalu bergembira

Aku sudah belajar bahwa....
Ujian dan cobaan itu pasti datang didalam hidupku
Dan aku tidak mungkin berkata "tidak Tuhan!"
Karena aku tahu bahwa itu tidak melampaui kekuatanku
Sebab itu aku akan selalu bergembira

Aku sudah belajar bahwa...
Tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi
karena semua rencana-Nya indah bagiku
Maka aku akan bersyukur dan bergembira di dalam segala perkara
Karena bergembira adalah resep jitu yang aku dapatkan
Dari-Nya...

Monday, April 18, 2005

Istri Programmer


Sebelum memutuskan untuk menikah dengan IT Guys pikir dulu masak-masak dan jangan menyesal kemudian. Makanya perhatikan baik-baik percakapan antara seorang istri dengan suaminya, seorang Software Engineer.

Suami: (Pulang telat dari kantor) "Selamat malam sayang, sekarang saya logged in."
Istri: "Apakah kamu bawa oleh-oleh yang aku minta?"
Suami: "Bad command or filename."
Istri: "Tapi aku bilangnya dari tadi pagi!"
Suami: "Errorneous syntax. Abort?"
Istri: "Trus, bagaimana tentang beli televisi baru?"
Suami: "Variable not found..."
Istri: "OK deh, kalo gitu aku minta kartu kreditmu. Aku mau belanja sendiri aja."
Suami: "Sharing Violation. Access denied..."
Istri: "Apakah kamu lebih mencintai komputer daripada aku? Atau kamu hanya main-main saja?"
Suami: "Too many parameters..."
Istri: "Itu kesalahan terbesar kalo saya menikahi orang 'idiot' sepertimu."
Suami: "Data type mismatch."
Istri: "Kamu tidak berguna."
Suami: "It's by Default."
Istri: "Bagaimana dengan gajimu?"
Suami: "File in use ... Try later."
Istri: "Kalo gitu apa posisiku di keluarga ini?"
Suami: "Unknown Virus."

Monday, April 11, 2005

Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada

Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya
Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkan kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya(**)
Bisakah kita semua
Benar-benar sujud sepenuh hati
Kar'na sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja


Cinta Itu Dunia Ku
Lalu aku menulis tentangnya
Tentang kemabukan rasa
Tentang keindahan rupa
Tentang kerinduan yang tiba
Tentang liku-liku di jalanannya
Di duniaku aku tidak menulis
Tentang kehancuran bahana perang
Atau tentang penyerahan dan penaklukan
Tetapi aku menulis
Tentang kesetiaan dan keluhuran
Atau tentang ketabahan dan pengabdian
Siapakah akan mengerti ?
Siapakah akan sudi menatapi ?
Aku dan duniaku
Hidup dan bercinta
Works Posted by Hello

Saturday, April 09, 2005

Siapakah Ibunya ?


Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke kota. Mengingatjalantol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk,sayasinggah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seoranganaklelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan."Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segeramenyelakdaun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajaannya."Tidak dik....abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. diaberlalu.Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih kurang 20menitkemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasangsuamiistri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja."Abang sudang makan , tak mau beli kue saya?" katanya tenangketikamenghampiri meja saya."Abang baru selesai makan di, masih kenyang nih," kata sayasambilmenepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma disekita restoran. Sampai disitudia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu ditanya...."Tak mau beli kue saya bang..pak.kakak atau ibu." Molek budibahasanya.Pemilik rstoran itu pun tak melarang dia keluar masuk kerestorannyamenemui pelanggan. Sambil memeperhatikan, terbersit rasa kagum dankasihandi hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampakkeluhkesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orangyangditemuinya enggan membeli kuenya.Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil.Anakitu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Sayabukapintu, membetulkan duduk dan menututp pintu. Belum sempat sayamenghidupkanmesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuahsenyuman.Saya turunkan cermin. Membalas senyumannya."Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untukadik-adikabang, ibu atau ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.Sekalilagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daunpisangpenutupnya. Saya tatap wajahnya, berssih dan bersahaja. Terpantulperasaankasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mngulurkan selembaruang Rp20.000,- saya ulurkan padanya."Ambil ini dik! Abang sedekah ....tak usah abang beli kue itu."sayaberkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anakitumenerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terusberjalankembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.Setelah mesin mobil saya hidupkan . Saya memundurkan.Alangkahterperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,-pemberiansaya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Sayaterkejutsaya hentikan mobil, memanggil anak itu."Kenapa bang mau beli kue kah?" tanyannya."Kenapa adik berikan duit abang tadi pada pengemis itu? Duit ituabangberikan adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya."Bang saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahusayamengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.Kalaudia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masihbanyak,mak pasti marah. Kata mak mengemis kerja orang yang tak berupaya,sayamasih kuat bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagumdenganpegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapahargasemua kue dalam bakul itu."Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk.Lidahsaya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja bang....." Selepas diamemasukkansatu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp25.000,-. Diamengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hinggahilangdari pandangan.Dalam perjalanan, baru saya terfikir untuk bertanya statusnya. Anakyatimkah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya?Terusterang saya katakan , saya beli kuenya bukan lagi atas dasa kasihan,tetapirasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanyasuatupenghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu.Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya..........

Rumah Sakit

Sekedar pemberitahuan buat membangun banten��
Saya punya unek-unek tentang Rumah Sakit Umum di Serang,
Pertama saya bangga sebagai orang banten dengan adanya Rumah Sakit Umum di Serang sekaligus berada di tengah-tengah Ibu Kota Propinsi Banten dengan bangunan yang luas, cocok sekali buat pelayanan kesehatan dari kalangan menengah ke bawah, bahkan dari berbagai kabupaten di Banten banyak yang berobat ke RSU Serang. Karena mereka beranggapan RSU diserang berada di tengah-tengah ibu kota propinsi banten dan mungkin mereka beranggapan pelayanan di RSU Serang lebih bagus ketimbang yang ada di kotanya masing-masing.
Tetapi itu mungkin bagi orang menengah keatas dengan menempati ruang kamar VIP atau Kelas 1 dengan pelayanan yang lumayan, tetapi berbeda bagi kami kaum bawah, yang berada dikelas 2 dan 3, ceritanya ibu saya harus dioprasi karena tumor ginjal dan kami memilih kelas 2 biar pelayanannya lumayan , kami setiap malam tidur diluar sambil menunggu pasien menunggu hari H oprasi. Pagi kami bangun untuk shalat subuh dan membereskan tempat biar lebih nyaman dan kami melihat disebah ruangan kelas 1 sedang di bersihkan dan dipel oleh petugas kebersihan. Kami menunggu agar ruangan kami juga di besihkan dan dipel dan jam 7.30 kami udah disuruh keluar ama satpam agar tidak menggangu pasien yang sedang di cek sama dokternya. Jam 11 jam besuk udah dipersilahkan, tapi tempat kami masih kotor lantainya bekas hujan, akhirnya kami inisiatif sendiri dengan membersihkannya. Dari pada hari H ibu dioprasi kami menunggu dengan tegang didepan Instalasi Bedah Central 5 jam kami menunggu akhirnya ibu keluar dari ruangan dengan kondisi lemah dan blom sadar. Kami semua bersyukur pada Allah atas lancarnya oprasi. Pas malam tiba sekitar jam 3 pagi kami melihat infuse sudah mulai habis. Kami ketuk ruangan perawat, dia terbangun dan saya beritahukan bahwa infusenya udah mau habis, dia masuk kedalam dan memberikan diagnosa untuk beli ke apotik, yang saya heran kenapa waktu siang dia tidak menyuruh kita untuk membeli stock infuse kenapa harus menunggu habis dan menunggu malam. Jam 3 pagi saya beli infuse dan langsung diganti. Siangnya ibu di trasnfusikan darah dan kondisi ibu mulai membaik dan terlihat segar.
Pas malamnya kami tertidur dan jam 12 malam diberitahukan sama keluarga pasien lain bahwa kantong darahnya sudah habis dan kami terbangun melihat kondisi ibu begitu mengkhawatirkan susah bernafas dan detak jantungnya sempat berhenti kondisi badanya panas tapi berkeringat, kami bangunkan perawat tapi yg jaga masih belum lulus pada sekolahnya dia sedang praktek, si perawat tadi ga bias ngapa-ngapain Cuma bengong kalau bukan kitanya nyuruh minta bantuan ke dokter jaga, akhirnya dia menelpon UGD dan datang orang UGD dan memberi perolongan dengan memasang Oksigen dan memasang infusan kembali, sejam saya menunggu ibu yg sedang terbaring dengan hidung menghirup oksigen, ibu terbangung dengan terasa pusing dan gatal-gatal yang menurut perkiraan saya akibat tadi jarum infuse yang berisi kantong darah habis dan si nadi menyedot kantong yg kosong yang mengakibatkan sipebuluh darah kecil tersumbat, saya bangunkan perawat tadi dan minta tolong gimana supaya rasa gatal dan pusingnya hilang, eh yang bikin saya kesel malah dia jawab ntar pagi aja ya saya jalan masuk ruangan lagi malah dianya menutup pintu.
Kejadian kedua saya perhatikan kantong air seni pada jam 1 siang sampai magrhib ga bertambah dan ibu merasakan dia pingin kencing tapi ga keluar kantong pembuangan juga ga bertambah dan ibu mulai merasakan ga nyaman dan terasa kembung pada perutnya, pertama saudara perempuan saya konsul tapi kata perawat yg cowo bilang meski banyak minum padahal ibu saya selalu banyak minum dan bilangnya iya ntar, kami menunggu ga ada yang datang melihat kondisi pasien ga begitulama ada perawat cewe lagi mengecek pasien yang lain, ibu saya memanggilnya dan dia menghampiri dan semuanya keluhan ibu diceritakan pada perawat tadi tapi apa hasilnya dia Cuma bilang mungkin harus dibuka kali ya dan ga pake kantong lagi sambil dianya pergi, kami menunggu lama dan kesal saya datangi lagi saya ceritakan semua kondisi ibu tapi jawabnya Cuma iya emang kaya gitu tunggu aja sampai 5 hari apa ga gila tuh seorang perawat ngomong kaya gitu,saya keluar dan saya omongin ke bapak saya, bapak masukke dalam sambil maki itu perawat tadi akhirnya dia keluar ngecek dan apa coba ternyata salurannya tersumbat yang masuk selang, coba bayangkan kalau sampai nunggu 5 hari apa yang terjadi.

Saran saya dari orang bawah tolong lah jangan membeda-bedakan pelayanan, karena kami juga manusia sama ama yang lain yang wajib ditolong, kami juga bukan tidak mau jadi orang kaya tapi Allah belum memberikan Jalannya dan kami juga tetap berusaha.

Jagalah Motto, Visi dan Misi yang ada pada Rumah Sakit Umum Daerah jangan pernah pilih kasih


Terima kasih
Wasalam



HENDRY

Catatan Rindu


Catatan Rindu
Sesekali bila terbangun
Dari mimpi yang panjang
Aku menjadi pelarian rindu
Dimanakah rindu itu
Dikamar sepi ini
Atau di jalanan merah berdebu ?
Hatiku selalu bersenda
Datangkah lagi rindu itu
Menembusi jendela terbuka
Di pagi yang dinginAtau di malam yang sepi ?
Seperti perasaan rindu yang lain
Yang mengetuk kamar waktu sempitku
Rindu itu bagaikan bayangan
Wajah-wajah, tiba-tiba menyapa
Dalam diamLalu akupun menjadi teramat rindu

Mengaku Sebagai Matahari

Ada dua orang gila yang sedang berdialog di rumah sakit jiwa Grogol.
Orang gila 1 : ( sambil naik meja ) "Tahu nggak kamu?"
Orang gila 2 : "Nggak, apaan?"
Orang gila 1 : "Saya itu matahari ( sambil mengangkat tangannya tinggi2 ) lihat lah terang dunia ini oleh ku!"
Orang gila 2 : ( dalam hati ) "Jangan-jangan dia ini tambah gila, aku lapor sama dokter biar dia diperiksa..."
Sambil berlari orang gila 2 tadi pergi ke ruangan dokter dan melapor:
Orang gila 2 : "Dokter, teman saya itu mungkin bertambah gilanya."
Dokter : "Kenapa?"
Orang gila 2 : "Benar dokter, dia naik ke atas meja sambil mengangkat tangannya dia bila dia adalah matahari sehingga dunia ini terang dia buat."
Dokter : "Kalau gitu suruhlah temanmu itu turun."
Orang Gila 2 : "Ah jangan dokter, nanti kalau dia turun gelap dunia ini nanti..."
Dokter : "???"